Powered By Blogger

Sunday, December 5, 2010

Muntah, Jodoh?


“Bujang, apa kau pernah memakan makanan yang sangat enak?” Tanya Hamzah tiba-tiba.

“Aku ingat-ingat dulu. Oh ya, pernah. Nasi Kebuli.” Ujar Bujang ceria.

“Ketika kau sedang berhadapan dengan nasi kebuli itu apa kau yakin nasi itu rezekimu?”



“Ya”

“Ketika kau mulai makan, apa kau makin yakin nasi yang kau masukkan ke dalam mulutmu itu rezekimu?”

“Tentu saja.”

“Ketika kau selesai makan, apa kau sudah sangat yakin bahwa nasi di dalam perutmu itu rezekimu?”

“Pasti itu.”

“Bagaimana jika kemudian perutmu mual lalu kau memuntahkan nasi kebuli yang sudah bersanding dengan isi perutmu?”

“Berarti hanya sebatas itulah rezekiku, Hamzah.”

“Bujang, kau harus dapat membedakan mana rezeki untuk matamu, mana rezeki untuk mulutmu, dan mana rezeki untuk perutmu.” Ingat Hamzah.

“Apa maksudmu?”

“Maksudku, rezeki untuk mata belum tentu akan menjadi rezeki untuk mulutmu. Rezeki untuk mulutmu belum tentu akan menjadi rezeki untuk perutmu. Rezeki untuk perutmu pun belum tentu akan menjadi rezeki untuk pertumbuhan tubuhmu. Hanya rezeki yang berkah saja yang dapat bermanfaat bagi kita, baik sedikit maupun banyak.” Papar Hamzah.

Bujang terdiam sesaat sambil membenarkan letak kopiahnya. Lalu ia pun tersenyum.

“Ya, ketika kau bertemu dengan wanita yang kau cintai, apa kau yakin dia adalah jodohmu?” Tanya Bujang.

“Ya” jawab Hamzah.

“Ketika wanita itu menerima cintamu, apa kau makin yakin bahwa dia adalah jodohmu?”

“Tentu saja.”

“Ketika kau berhasil memperistrinya, apa kau sudah sangat yakin bahwa dia adalah jodohmu?”

“Pasti itu.”

“Bagaimana jika hanya dalam hitungan bulan lalu terjadi perceraian di antara kalian?”

“Ya…. berarti hanya sebatas itu jodohku,” ujar Hamzah lemas.

Keduanya terdiam sesaat. Mereka tenggelam dalam kekhawatiran apakah wanita atau istri yang mereka cintai adalah jodoh salehah yang ditakdirkan bagi mereka di dunia dan akhirat atau bukan. Seebuah kekhawatiran yang manusiawi.

“Hamzah, kau harus dapat membedakan mana jodoh untuk matamu, mana jodoh untuk hatimu, mana jodoh untuk jiwamu.” Ingat Bujang.

“Apa maksudmu?”

“Maksudku jodoh untuk matamu belum tentu akan menjadi jodoh untuk hatimu. Jodoh untuk hatimu belum tentu akan menjadi jodoh untuk jiwamu. Jodoh untuk jiwamu pun belum tentu akan mendatangkan kebahagiaan”, papar Bujang.

“Aku paham maksudmu, Bujang. Kita harus dapat membedakan mana wanita yang kita cintai, mana wanita yang menjadi istri kita, dan mana wanita yang menjadi jodoh kita. Wanita yang kita cintai belum tentu akan menjadi istri kita. Wanita yang menjadi istri kita belum tentu akan menjadi jodoh kita. Bahkan, wanita yang menjadi jodoh kita….. belum tentu adalah wanita yang sangat kita cintai…..” ujar Hamzah pelan karena menahan kesedihan yang datang tiba-tiba.

dipetik dari buku : Bujang dan Jenderal Portugis

No comments:

Post a Comment