Powered By Blogger

Saturday, September 17, 2011

Buncis Rebus [mawlana rumi]

Sahabats…
Seorang Syeikh Sufi seringkali menasihati murid-murid beliau menggunakan bahasa perumpamaan, kadang juga beliau mengungkapkan nasihat berupa puisi. Nah, Sufi kekasih Allah yang kita sajikan nasihatnya kali ini, Maulana Rumi menyajikan nasihatnya dalam rupa puisi yang penuh perumpaan, yang bila kita renungkan isinya sebuah rahasia kehidupan yang penuh hikmah.

Lihatlah buncis dalam periuk,
betapa ia meloncat-loncat ketika dipanaskan api.
Sewaktu direbus, selalu ia timbul ke permukaan,
seraya merintih tiada henti.
Sambil mengeluh, “Mengapa kau letakkan
api di bawahku? Engkau telah membeliku,
mengapa kini engkau malah menyiksaku?”
Sang istri memukulnya dengan penyendok, [1]

“Nah, sekarang,” katanya, “sungguh-sungguh
matanglah engkau, dan jangan meloncat lari dari
yang menyalakan api.
Tidaklah aku merebusmu karena membencimu;
sebaliknya, inilah yang akan membuatmu lezat dan harum.
Dan menjadi nutrisi dan bercampur dengan jiwa
yang hidup: kesengsaraanmu ini bukanlah penghinaan.
Ketika masih hijau dan segar, engkau hirup air di kebun:
air yang engkau serap itu demi api ini.
Rahmat-Nya terlebih dahulu daripada murka-Nya, [2]
tujuannya agar dengan Rahmat-Nya engkau
menderita kesengsaraan.
Rahmat-Nya telah mendahului murka-Nya, agar
yang-diperdagangkan ini, yakni wujud, dapat
muncul.

Karena, tanpa kesenangan, daging dan kulit tidak
akan tumbuh; dan jika mereka itu tidak tumbuh,
apakah yang akan ditelan oleh cinta Sang Wali.
Jika, karena urutan itu, datanglah tindakan kemurkaan,
tujuannya agar engkau dapat menyerahkan
yang-diperdagangkan itu.
Setelah itu, kembali Kasih Allah akan datang, sehingga
berlalulah tindakan kemurkaan; seraya berkata,
“Kini, karena engkau telah dimurnikan, engkau dapat
mentas dari sungai pembersihan.”
Sang istri berkata, “Wahai buncis, engkau telah tumbuh
sepanjang musim semi, kini Kesakitan adalah tamumu,
jamulah dengan baik.
Sedemikian rupa, sehingga ketika pulang, dia
berterimakasih, dan menceritakan kemurahanmu di
hadapan Sang Raja.
Sehingga yang sudi mengunjungimu bukanlah sekedar
suatu kebaikan, melainkan Sang Penganugerah Kebaikan
sendiri; sampai semua kebaikan iri kepadamu.
Aku bagaikan Ibrahim, dan engkau adalah putraku:
baringkan kepalamu di bawah pisauku, karena dalam
mimpiku kulihat aku menyembelihmu. [3]

Baringkan kepalamu di bawah kemurkaanku, dengan
hati teguh tak bergeming, sehingga dapat kusembelih
lehermu, bagaikan Ishmail.
Akan kupotong kepalamu, tetapi kepala ini adalah kepala
yang tidak bisa dipotong dan tidak bisa mati; [4]
Sungguhpun demikian, berserah-dirinya engkau adalah
tujuan sebenarnya: Wahai sang Muslim, engkau harus
berjuang untuk menyerahkan dirimu.
Karena itu, wahai buncis, tabahlah engkau ketika direbus
dalam penderitaan, sehingga tidak lagi tersisa padamu
wujudmu, tidak pula dirimu.
Semula engkau tertawa di taman bumi, padahal
sebenarnya engkau adalah mawar di taman jiwa;
mawar yang indah dalam pandangan bashirah. [5]
Jika telah bercerai engkau dari taman tanah dan air,
engkau menjadi makanan bagi mulut dan telah masuk
ke dalam yang hidup.
Menjadi nutrisi dan kekuatan dan pikiran. Dahulu engkau
mangsa: sekarang jadilah seekor singa di hutan. [6]
Awalnya engkau tumbuh dari sifat-sifat-Nya: kembalilah
dengan ringan dan gesit kepada sifat-sifat-Nya.
Dirimu datang dari awan dan matahari dan langit; lalu
engkau terpencar dalam sifat-sifat dan naik menembus
lelangit.
Dirimu datang dalam bentuk hujan dan panas:
engkau akan menuju sifat-sifat Ilahiah.
Dirimu semula bagian dari matahari dan awan dan
bintang-bintang: lalu engkau menjadi jiwa dan amal
dan ucapan dan pikiran.”
Tingkatan hewaniyah bangkit dari matinya tataran nabatiyah:
karena itu ucapan: “sembelihlah aku, wahai Wali yang
Terpercaya,” benar adanya.
Karena kemenangan menunggu setelah kematian,
ucapan “sesungguhnya pada penyembelihanku terdapat
kehidupan” itu benar.
Shalehnya amal dan ucapan dan ketulusan menjadi
makanan bagi malaikat, dengan sarana inilah
dia naik ke langit.
Demikian pula ketika makanan ditelan Insan, ia naik dari
tataran tak-mampu-bergerak menjadi wadah jiwa.
“Karavan jiwa tak hentinya datang dari langit, singgah
sebentar disini dan kembali lagi.
Berangkatlah dengan manis dan riang berlandaskan
pilihanmu sendiri, tanpa kepahitan dan kebencian
seorang pencuri. [7]
Kata-kataku pahit, agar kepahitanmu dicuci bersih.

Bekunya anggur dicairkan dengan air dingin, sehingga
ia tidak lagi dingin dan keras.
Saat qalb-mu telah penuh darah berwarna anggur,
dari pahitnya pensucian diri, barulah engkau
terhindar dari kepahitan.”
Sang buncis menjawab, “Jika memang begitu adanya,
dengan senang hati aku direbus, tolonglah aku
agar bersikap benar.
Yang mentah dan belum dimasak itu mestilah keras
dan tawar.
Dalam perebusan ini, engkaulah perancangnya, aduklah
dengan lembut.
Jika aku ini bagaikan seekor gajah, maka
jinakkan aku dan beri aku kekang, agar berhenti
aku dari mengangankan negeri dan taman gajah;
Sehingga aku dapat menyerahkan diri kepada perebusan
ini, dengan tujuan agar kutemukan jalan kepada
pelukan Sang Kekasih;
Karena manusia, jika dibiarkan bebas, lalu dia akan
bersikap lancang, melawan dan penuh angan-angan.”

Catatan:

[1] “Istri” adalah Mursyid; “Buncis” adalah murid;
sedangkan “Api” adalah disiplin diri dalam pertaubatan.

[2] “Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” (HR Muslim).

[3] QS [37]: 102.

[4] Yang disembelih disini adalah jiwa (nafs) dari manusia;
yang notabene baru akan mati ketika Hari Kiamat.
Karena itu, alih-alih dari memusnahkan, kematian demi
kematian jiwa akan menaikkan jiwa dari tataran rendah ke
tataran di atasnya sampai ke ketinggian sejatinya.
Hal ini merupakan salah satu tema sentral pembahasan
para Guru Sufi sepanjang zaman.

[5] Jiwa mereka yang beriman sejati tampak indah dalam
pandangan bashirah.

[6] “Singa” memburu keberhasilan ruhaniyah.

[7] “… datang dengan senang hati.” (QS [41]: 11).
“Pencuri,” karena mengaku bahwa dirinya adalah miliknya sendiri.

No comments:

Post a Comment