Tuesday, August 21, 2012

SENGKUNI

Sengkuni adalah tokoh wayang Mahabarata Jawa yang menjabat sebagai Patih di Negara Astina, sebuah negara yang diperintah oleh Kurawa. Badannya kurus, mukanya pucat kebiru-biruan seperti pecandu. Cara bicaranya “klemak-klemak” terkesan menjengkelkan. Orang yang mempunyai ciri fisik seperti ini cenderung berbuat licik, senang menipu, munafik, senang memfitnah, senang menghasut, senang mencelakakan orang lain, dan iri hati. Sengkuni dikenal juga sebagai pengemong atau penasihat, terutama tentang hal-hal pemerintahan bagi para Kurawa dalam memerintah Astinapura. Di sisi gelap jiwa Sengkuni selalu menyimpan suatu dorongan sadis, yaitu “biarlah orang lain menderita.” Di mana pun juga, sebenarnya kita akan menemukan orang-orang yang memiliki kecenderungan-kecenderungan kasar yaitu ingin mempertahankan dirinya, tetapi orang lain harus dikorbankan. Siasat licik yang dijalankan Sengkuni adalah mengadakan permainan judi dengan dadu dengan Pandawa (Yudistira). Sengkuni tahu bahwa Yudistira senang bermain dadu. Pandawa kalah, pertaruhannya adalah terusir dari istana dan mengembara dalam hutan. Karena kejahatannya sampai kini tak seorangpun yang mau disamakan dengan tokoh Sengkuni. Tapi, bagaimanapun, masyarakat Jawa dan Bali percaya bahwa tokoh ini tidak dapat diremehkan. Sengkuni adalah tokoh yang sangat sakti dalam perang Baratayuda karena memiliki Ajian Pancasona. Dengan ajian itu, ia akan kebal terhadap senjata apapun. Tetapi menjelang akhir perang setelah semua Kurawa terbunuh, barulah Sengkuni dapat dibunuh oleh Bima dengan kuku Pancanaka setelah diberi tahu kelemahannya oleh Sri Kresna. Kresna punya segala kelebihan nirwana. Backing dari Suralaya dan sebuah Kaca Lopian yang bisa menjawab semua masalah. Bahkan sudah tahu persis bagaimana jalannya sejarah yang akan datang, tahu akhir kisah Barathayudha dari awal cerita dipentaskan. Ya jelas, karena memang skenario nya adalah : “Pandawa memenangkan Bharatayudha“. Bagaimana dengan sang laknat Sengkuni? Sungguh dia adalah seorang mediocre dari kampung coret Gandara. Cuma manusia biasa dengan modal otak saja. Tanpa ilmu-ilmu ajaib dari langit. Tetapi justru tampil dalam pentas secara lebih manusiawi. Sangat manusiawi malah, karena ada sifat iri dan dengki-nya itu. Kalau anda perhatikan, justru akal dan taktik politiknya sungguh mengagumkan dan bertebaran di sepanjang kisah Mahabharata. Dasar nasib sial cuma terlahir sebagai manusia biasa, segala langkah Sengkuni jelas sudah terbaca oleh Kresna karena support dari Dewata. Berusaha sampai njengking sekalipun tetap saja kalah, karena tidak punya backing pemegang nasib dan takdir seperti sang Kresna. Opini mitos Mahabharata di atas memang sangat dangkal adanya. Tetapi bisa jadi benar juga, kenapa pandangan konservatif biasanya lebih cenderung memihak legitimasi Kresna. Dan sebaliknya dalam pandangan modern justru Sengkuni yang lebih manusiawi berada dalam batas realitas yang lebih mudah diterima. Meski kedua pandangan tersebut juga belum patut dijadikan teladan. Naiknya Sengkuni sebagai patih pun melalui jalan curang. Dalam lakon ‘Gandamana Luweng’ dikisahkan bagaimana Sengkuni menyiapkan jebakan luweng (lubang) bagi Patih Gandamana saat mereka berperang melawan Pringgondani. Sengkuni melapor kepada Prabu Pandu Dewanata bahwa Gandamana –yang terkubur dalam luweng– tertangkap musuh. Setelah Pringgondani berhasil diduduki, Sengkuni melaporkan bahwa Gandamana tewas. Maka ia pun diangkat menjadi patih, menggantikan Gandamana. Sedikitnya ada dua taktik Sengkuni yang mencoba menyingkirkan Pandawa. Dalam lakon ‘Bale Sigalagala’ atau ‘Pandawa Obong’, pihak Pandawa diundang menghadiri pesta dalam bangunan yang bahannya rawan terbakar. Pihak Kurawa lalu membakar bangunan tersebut. Pandawa selamat dibopong Bima mengikuti garangan putih. Dalam lakon ‘Pandawa Dadu’, dengan kelicikan Sengkuni, Pandawa kalah dan harus menyerahkan kerajaan Astina kepada Kurawa. Kedua taktik ini jelas dahsyat, sebuah tipu muslihat yang ampuh, membuat lawan tidak berkutik. Sebaliknya Bima, utamanya dalam lakon Dewaruci, adalah tokoh yang telah mencapai tahapan marifat. Ia telah mengenal dirinya sendiri dan penciptanya. Sebagai satria pinandita, ia melakukan tapa ngrame agar bermanfaat bagi sesamanya. Maka perkelahian Sengkuni dengan Bima barangkali bisa ditafsirkan sebagai simbol pertempuran antara hawa nafsu dan kesucian. Peperangan yang terus terjadi dalam diri manusia. Hanya dengan meneladani ketekunan, keberanian dan kekuatan tekad seperti Bima yang menempuh jalan kebenaran dan kesucian, manusia bisa mengalahkan Sengkuni di dalam dirinya. Di satu sisi, orang memfitnah sebagai jalan pintas. Di sisi lain, dikatakan bahwa orang yang memfitnah ibarat orang yang meludahi langit, akan terkena ludahnya sendiri. Di satu sisi, ada jalan yang menghalalkan segala cara. Di sisi lain, ada keselarasan alam semesta dan hukum karma. Sengkuni licik dan banyak akal, Bima polos dan lugu. Sengkuni menjilat, Bima berbahasa ngoko dan tidak pernah jongkok. Sengkuni penuh ilusi fitnah dan hasutan, Bima telah mencapai kebenaran sejati. Dalam Bharatayuda, Bima mengalahkan Sengkuni. Tapi ada yang mengatakan bahwa lantaran serpihan tubuh Sengkuni disebar Bima ke berbagai penjuru maka ‘roh’ Sengkuni pun hidup di mana-mana. Ya mungkin karen tubuh sengkuni disebar roh-rohnya ikut menyebar akhirnya jiwa-jiwa sengkuni ikut menyebar.

No comments:

Post a Comment